Senin, 16 Mei 2016

Ketika Cahaya Menyelamatkanku




  ketika cahaya merah dari ufuk timur menyinari gelapnya jiwa yang tersesat. Entah kemana. Dan ketika cahaya menyinari jiwa itu, hangatnya sebuah ketulusan engkau telah berikan ketenangan, kedamaian, dan keabadian cinta. Semua membuat jiwa ini merasa kehangatan yang membuat seluruh tubuh bergerak sendiri dan sungguh membuat jiwa ini terbang untuk memilikki sebuah tujuan bagaikan serangkai arus air. Air yang sangat jernih dan tenang. Seperti inilah yang telah  tersusun rapi dari dirimu wahai tuhanku.Yang pada awal arus air sangatlah keruh dan arus air yang berantakan seperti angin yang berhembus melingkar secara cepat dan membingungkan. Kini Tlah berubah menjadi nada-nada kehangatan dalam suratan jiwa yang telah kau takdirkan.
   Dan semoga sinar hangat.Bersinar dihembusan angin di pagi hari.Bersinar didetik jiwa ini,berada karna sinarmu.Membuat jiwa.kesepian ini mengerti sebuah kehidupan,kau tau wahai
sinar,menyinariku hingga membuatku bangkit,dari sebuah lubang hitam black hole,begitu mengerikanya lubang itu.Kau buat dengan sangat indah,untuk melengkapi tata surya.Kau buat dengan luar biasanya,Tuhan.
   Duhai raja dari segala raja,diseluruh tata surya dijagat rasa,beribu rahasia belum dipecahkan oleh akal fikir makluk tercerdasmu.wahai tuhan kau telah memberiku sedikit waktu,hanya sekedar mengukir sebuah tinta emas.Disejarah hiudupku.untuk masa keabadianku kelak dialam baka,ku pinta wahai sang maha pengasih,ku hanya ingin hidup bersama dengan cahaya, sampei batas waktu yang telah engkau berikan.kepada diriku.Setidaknya hidupku akan lebih berharga bersama sang cahaya yang hangat itu yang telah menolongku dari lubang hitam yang sangat menyakitkan.

0 komentar:

Posting Komentar