Jumat, 06 Mei 2016
Syair Dari Gurun Sahara
Mengukir seuntai syair Dalam sehelai bulu finik yang ditulis dengan merahnya hati seorang pujangga dari gurun sahara karna dari sanahlah semua itu dimulai dan dari sanahlah sang pujangga mengukir sebuah cerita yang begitu menyayat hati dalam jiwa sang pujangga itu tiada hari demi hari yang tidak dilakukan dengan mungukir sebuah cerita mengenai hari harinya dikota kelahiran pujagga agar dunia tahu betapa berlikunya dan sakitnya seorang pujangga itu. `
Dan begitu dalam bahkan samudra dan lautan tidak mampuh melampoi dalamnya rasa yang terukir didalam hati pujangga itu apakah dunia itu adil apakah tuhan tidak melihat begitu dalamnya rasa sakit yang telah terukir didalam hatinya dan apakah tuhan tidak merasa ibah kepada dirinya dan membiarkan sang pujangga itu merasakan rasa sakit disetiap harinya wahai tuhan pecipta alam semesta kau maha penguasa lagi maha pengsih semoga surat yang diantar oleh burung finik yang ku tulis dikegelapan malam yang sama halnya seperti gelapnya hatiku yang tidak pernah ada sedikitpun cahaya yang menyinarinya.
Tuhan semoaga seutas surat itu membuatmu tahu tentangku yang begitu hinanya dan begitu buruknya diriku tapi terlepas dari itu semua semoga tuhan tahu kalo memang seandaainya didalam hariku tidak ada cehaya yang menerangiku selama nafas masih berhembus maka tuhan ku pinta dan ku berdoa agar kau mengakhir hariku yang tiada artinya yang begitu sakitnya dan membuatku hidup dalam kegelapan akhirilah tuhan akhirilah janganlah kau perlama hidupku karna itu semua membuatku merasa semakin sakit ku pinta darimu wahai tuhan pecipta alam semesta.







0 komentar:
Posting Komentar